Wabah, Agama, Sejarah

Sekali pranata sosial berubah, tak ada lagi jalan memutar untuk kembali kepada situasi yang sama. Ketika kebijakan untuk membuka semua sektor setelah beberapa bulan lumpuh akibat pandemi, kita tahu, istilah kenormalan baru hanyalah retorika.

Pola sosial akan seterusnya, dan selamanya, berubah.

Pola hidup baru hanyalah salah satu perubahan yang paling tampak. Di balik wajah yang akan terus menggunakan masker, tangan yang akan terus bersentuhan dengan sabun dan hand sanitizer, jauh di dalam hati dan pikiran, berlangsung pembangunan-ulang cara kita memandang dunia dan kehidupan.

Hubungan manusia dan alam tidaklah sesederhana pengatur dan yang diatur, kini alam mengada dalam alur kehidupan sebagai penentu sebuah perubahan.

Dalam waktu yang akan datang, buku-buku sejarah tidak lagi diisi hanya oleh nama, tempat, dan peristiwa, bukan juga politik, ekonomi dan sosial, tetapi unsur-unsur alam yang menjelma menjadi wabah, pergeseran kerak bumi, dan gerakan benda-benda langit.

Ini kali pertama Indonesia sebagai negara berdaulat menghadapi pandemi, dan manusia-manusia yang menghidupnya baru lahir setelah kolera dan flu Spanyol membunuh jutaan jiwa.

Namun piranti-piranti yang membentuk negara kita, dan semua negara modern, adalah warisan dari masa-masa wabah.

Mark Harrison dalam Contagion: How Commerce Has Spread Disease (Yale University Press: 2012) merunut sejarah kebangkitan ekonomi merkantilis setelah wabah pes melanda dunia sejak abad ke-14. Dan ini membentuk sistem negara-bangsa.

Karantina dan isolasi yang membantu menahan wabah pes terbukti tidak efektif terhadap pandemi kolera yang melanda Amerika Serikat, Timur Tengah, Rusia, dan Eropa pada abad ke-19.

Masyarakat harus beradaptasi lagi ketika penyakit mengerikan menyerang orang-orang yang tampaknya sehat, membunuh puluhan ribu masyarakat perkotaan.

Karantina tidak dapat membendung mikroba yang tiba di pelabuhan dan stasiun kereta api, sebab negara tidak mungkin hidup tanpa perdagangan.

Pandemi, kolera, sekali lagi memaksa masyarakat untuk melakukan reformasi. Wabah menyebar bersama kapal-kapal dan kereta api yang menggerakkan ekonomi.

Selama ekonomi masing-masing negara saling terikat, selama itu pula wabah menjangkit. Maka menghentikannya mesti melibatkan seluruh negara.

Pada tahun 1851, negara-negara Eropa mengadakan International Sanitary Conference pertama untuk membahas perbaikan sanitasi dan memperketat suplai air karena kolera menular melalui air dan masuk melalui mulut.

Pertemuan itu pula membahas kerja sama global mengurangi kerugian ekonomi dan kesehatan masing-masing negara.

Pada tahun 1902, organisasi Sanitary Bureau kemudian berubah nama menjadi Pan American Health Organization. Inisiatif internasional ini adalah model awal dari segala kontrak internasional dan pembahasan masalah transnasional lainnya, seperti polusi, perdagangan opium, praktik perburuhan, nuklir, hingga terorisme. PBB baru didirikan pada Oktober 1945.

- Advertisement -
Muhammad Azwar
dosen Ilmu Alquran dan Tafsir STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply