Surat Untuk Dosen; Ketika Apatisme Menerpa Mahasiswa

0
106
Oleh Agung Z
Penulis Merupakan Aktivis HMI Cabang Banda Aceh

Dosen merupakan salah satu komponen esensial dalam sistem pendidikan di perguruan tinggi. Peran, tugas, dan tanggungjawab dosen sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yang meliputi kualitas iman atau taqwa, akhlak mulia, dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, adil, makmur, dan beradab.
Untuk melaksanakan fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis tersebut, diperlukan dosen yang profesional.
Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dosen dinyatakan sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Bab 1 Pasal 1 ayat 2).
Tugas utama dosen adalah melaksanakan tridharma perguruan tinggi dengan  beban kerja paling sedikit sepadan dengan 12 (dua belas) sks dan paling banyak 16 (enam belas) sks pada setiap semester sesuai dengan kualifikasi akademik.
Sebuah dorongan logis tentunya bagi seorang dosen untuk memenuhi atau memberikan ilmu sebanyak mungkin kepada mahasiswa. Meski dalam waktu singkat dosen harus semaksimal mungkin agar ilmu yang dimiliki tersampaikan dengan baik kepada mahasiswanya, bahkan memberikan tugas sebanyak mungkin kepada mahasiswa.
Sering terkadang mahasiswa harus mempersiapkan atau mempelajari dengan semaksimal mungkin demi menyelesaiankan tugas yang dibebani dosen.
Tanpa di sadari dwi fungsi mahasiswa macet, seperti kejadian 7 Maret 2018, mengintruksikan kepada seluruh mahasiswa kampus di Pekalongan untuk mengikuti aksi unjuk rasa menolak revisi Undang-Undang Nomor 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) pada pasal 122 k yang tengah menjadi polemik di negeri ini. Dengan menggandeng organisasi ekstra PMII dan aliansi BEM Pekalongan, demo dilakukan di depan gedung DPRD Pekalongan.
Intruksi mengajak mahasiswa untuk turun aksi tak lupa disertai dengan gambar surat dispen bagi mahasiswa yang akan mengikuti aksi tersebut. Diantara mahasiswa ada yang mempertanyakan hubungan surat dispen dengan aksi demo. Yang terjadi pada mahasiswa adanya surat dispensasi kuliah digunakan untuk memancing mahasiswa agar ikut berpartisipasi dalam demo tersebut.
Agaknya semangat jiwa-jiwa aktivis mahasiswa masih bergantung pada surat dispensasi. Untuk menghilangkan sikap apatis mereka, surat dispensasi dipilih sebagai jalan pintas untuk mengajak mahasiswa turut ikut serta dalam aksi tersebut. 

Kemungkinan jika tidak ada surat dispensasi menjadikan mahasiswa malas mengikuti demo karena lebih mementingkan kuliah. Akan tetapi yang perlu digarisbawahi disini adalah surat dispensasi bukan merupakan solusi untuk mengatasi sikap apatisme mahasiswa. Sikap apatis dikalangan mahasiswa saat ini perlu untuk dikaji. 

Pasalnya jika hal ini dibiarkan begitu saja maka tentu akan memberikan stigma yang negatif pada diri mahasiswa. Tidak akan ada pembeda antara mahasiswa dengan siswa.
Tuntutan semacam ini menjadikan mahasiswa takut, pada dasarnya kampus menjadikan mahasiswa objek ancaman pada Indeks Prestasi.
Taufiq Ismail, seorang penyair dan sastrawan Indonesia pernah menuangkan buah pikirannya tentang mahasiswa dalam puisi yang berjudul Takut 66, Takut 98.
Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa..
1998.
Kurang lebih begitulah isi dari puisi tersebut. Singkat namun sarat akan makna yang menggambarkan situasi pada masa tersebut. Itulah sepenggal sejarah perjuangan mahasiswa.
Harapan seorang dosen atas fungsi dan peran seperti ini sering disalah tempatkan, kampus menjadi otoritas yang berlebihan. Dasarnya mahasiswa seperti sumber informasi tunggal dan sebagai sentral aktivitas pembelajaran, sehingga menjadikan mahasiswa objek pasif, bejana kosong dipaksa menuruti keinginan dosen.
Meskipun begitu memang harus di akui tanpa kehadiran dosen belajar mengajar mahasiwa tidak akan maksimal. Namun upaya inovatif seperti ini memberikan dampak ketidak seimbangan antara dosen dan mahasiswa. Upaya inovasi seperti membawa mahasiswa menjadi mahkluk yang kosong mematikan kata aktivis maka lahirlah ‘Mahasiswa Bopeng Sebelah’
Ketika mahasiswa hanya dituntut belajar dan mengerjakan tugas di balik itu ada akibat yang ditimbulkan, sehingga mahasiswa lupa dengan tugas dan fungsi lain sebagai kaum intelektual. Permainan atau bukan dengan keadaan ini, terlepas semua itu, pemerintah via pimpinan kampus leluasa dalam merekayasa keadaan dan itulah fakta yang terjadi
Mahasiswa tidak lagi peduli mengenai kesenjangan dan kejanggalan sosial, politik, hukum, dan lainnya.
Selesai dengan nostalgia, lahirlah pertanyaan apakah faktor sehingga mahasiswa terbatasi ruang gerak? Siapa yang disalahkan? Solusi apa yang harus kampus ambil andil terhadap apatis mahasiswa?
Upaya langkah mutu untuk meningkatkan hasil pendidikan, mendorong UNESCO (1988) mendeklarasikan empat pilar pembelajaran yaitu :
Learning to know (Pembelajaran untuk tahu). Learning to do (Pembelajaran untuk berbuat). Learning to be (Pembelajaran untuk membangun jati diri). Learning to live together (Pembelajaran untuk hidup bersama secara harmonis).
Misi-misi ini, khusunya pada Learning to live together dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, bahkan juga dalam science, tidak mungkin dikembangkan secara speculative thinking sebagaimana dikehendaki oleh filsafat ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang mengembangkan pendidikan secara sistematis untuk mendalami ilmu itu sendiri. Melainkan bagaimana bidang-bidang ilmu yang ada menjadi alat untuk mengkaji fenomena dan problema sosial serta budaya yang terjadi sehingga seseorang mampu memecahkan masalah sosial dan budaya yang sedang terjadi ditengah mahasiswa.
Karena empat pilar studi, mahasiswa diharapkan menjadi pribadi anggota keluarga dan masyarakat yang baik sesuai dengan nilai-nilai pandangan hidup bangsanya. Dengan pemikiran ini mendorong peran dosen tidak hanya menggunakan ceramah monolog atau komunikasi satu arah, melainkan mampu menciptakan suasana yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan adanya dialog kreatif dalam setiap sesi pembelajaran.
Sudah masanya pihak kampus atu dosen memberi ruang agar mahasiswa mandiri dalam mengatasi masalah sosial, politik, hukum dan lainnya. Mahasiswa juga diharapkan turut andil dalam menumbuhkan semangat diskusi di kalangan mahasiswa.
Perlahan sikap apatisme mahasiswa tentu akan memudar seiring dengan wawasan wawasan yang didapat dari diskusi tersebut. Dengan begitu jiwa-jiwa mahasiswa yang terkenal dengan idealismenya akan tertanam dalam diri mereka.
Tak perlu menggunakan surat dispensasi kuliah untuk mengajak mereka ikut serta memperjuangkan hak-hak rakyat. Iming-iming surat dispensasi kuliah hanya akan menjadikan mental-mental mahasiswa seperti daun kering yang mudah dikumpulkan dan mudah terbakar. Tidak memiliki prinsip dan arah tujuan yang jelas.
Sudah tiba saatnya kampus dan dosen mengambil alih, aktor utama dalam mengatasi apatisme mahasiswa, supaya membuang jauh-jauh sikap ketidak pedulian mahasiswa. Bagaimanapun mahasiswa adalah tunas calon pemimipin masa depan negeri tercinta ini.

Leave a Reply