Salat Bukan Agama

ilustrasi/tirto.id

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk kita dilirik secara awam dan itu pasti seru, durasinya pun akan berlangsung lama.

Di jaman yang serba sekuler, manusia tidak berhenti mencari eksistensinya dalam agama dan agama bereksistensi dalam manusia. Dikarenakan hakikatnya manusia selalu ingin hidup damai dan itu diyakini akan ditemukan dalam agama.

Sebagaimana agama menjadi pola pikir untuk berperilaku, agama pun menjadi pola hidup manusia sehari-hari dan pegangan hidup manusia.

Sudah sejak lama kita mengenal orang-orang bijak yang membawa misi perdamaian mulai dari bapak monoteis Nabi Ibrahim, Isa hingga Muhammad sebagai pelestari ajaran luhur sang buyut.

Kita mengenal mereka tidak hanya sebagai pembawa misi ketuhanan, akan tetapi pembawa kehidupan yang ihsan, kehidupan yang penuh cinta kasih dan perdamian.

Seperti diketahui umum, kelahiran agama di dunia terjadi secara perlahan, butuh proses ratusan dan bahkan ribuan tahun. Agama Yahudi bisa dilacak asal muasal, dari Nabi Musa, bahkan hingga ke Nabi Ibrahim.

Tetapi agama Yahudi yang kita kenal sekarang mengkristal belakangan, bukan hanya mengakui Taurat-nya Musa (Taurat tertulis) melainkan juga aturan yang dikembangkan oleh para Rabbi (Taurat lisan), seperti dituangkan dalam Talmud Yerusyalmi (Yerusalem) dan Bavli (Babilonia).

Dan juga dengan agama Kristen yang lahir setelah Yesus (Isa). Ajaran inti Kristen diformulasikan ratusan tahun setelah sang pembawa tiada. Konsili Nicea dan Kalsidon menjadi rujukan teologi Kristen.

Dalam perkembangan ini, agama tidak saja dijadikan sebagai doktrin spiritual, namun sudah sering terjadi beberapa kalangan menjual agama demi meraih kehidupan dunia.

Charles Kimball, seorang Guru Besar Studi Agama di Universitas Wake Forest, AS menuliskan dalam bukunya, ‘Kala Agama Jadi Bencana’ buku tersebut dapat menyeret dan membawa agama sebagai sumber masalah.

Kita tahu, banyak kejadian yang dilatar belakangi dengan nama agama, seperti terorisme dan ada pula yang mengaku kelompok buddha, tetapi mendiskriminasi etnis Rohingya di Rakhie Myanmar.

Aksi okupasi yang dilakukan Israel atas Palestina secara agresif dan banal atas nama tanah Kanaan yang dijanjikan Yehovah. Pengalaman kelam para santo dan uskup atas konspirasi dan praktek korupsi sistematik dalam otoritas Gereja di abad-abad pertengahan.

Hampir semua kasus dikaitkan dengan agama, sudahkah kita berpikir, wajah Tuhan telah menjelma sebagai sosok yang kejam dan keras bak ibu tiri (hanya majas=bukan berarti semua ibu tiri begitu). Maka agama telah mengalami dekadensi sehingga nilai moral terperosok hingga ke jurang yang sering disebut sebagai palung laut.

Seharusnya orang-orang beragama itu harus fanatik ke diri sendiri, tetapi ketika dengan orang lain, baiknya meingimani toleransi. Karena agama pada hukum dasarnya tidak pernah salah. Dalam konteks itu, kita sudah sepakat bahwa agama sudah ada sebelum Nabi Adam.

Lambat laun perdebatan makin mendalam dan mendasar, di kalangan sejarawan menelusuri sejarah hidup sang pembawa agama kitab-kitab Sirah Nabawiyah (biografi Nabi), namun mendapatkan reaksi keras dari kalangan ahli hadis (Muhadditsun). Ahmad bin Hanbal, misalnya dikenal menolak dengan keras karya-karya sirah, karena dianggap tidak mendasar.

Atas dasar penolakan itu, sebagian sejarawan Muslim berpendapat bahwa pada jaman Nabi Adam bukan permulaan adanya agama, akan tetapi pada zaman Nabi Adam permulaan syiar agama di muka bumi.

Pertanyaannya, apakah agama itu yang sebenarnya? Dan kenapa salat itu bukan agama? Apakah dengan mengamini pemikiran tokoh besar terdahulu sudah beragama, seperti teori evolusi darwin, menyepakati ekses agama selaku ilusi dogma, mengiyakan sabda aksioma Nietzche (Tuhan telah mati, dan kita yang telah membunuhnya).

Kemungkinan pertanyaan semacam itu kerap terlintas dan terkesan mudah terjawab. Baiknya, untuk mengetahui diri kita tengah beragama atau sedang tidak bergama, tidak berkeharusan selalu terbebani dengan filsafat.

Terus jika demikian, apa agama itu yang sebenarnya. Ada dua versi pengertian agama, yaitu secara lesikal dan harfiah.

Secara leksikal, agama berakar dari dia suku kata: “a” dan “gama”. “a” artinya “tidak” dan “gama” artinya “kacau”. Maka agama, dapat dipahami sebagai semacam seperangkat sistem kepercayaan dan sikap hidup yang menjaga dunia agar tidak mengalami kekacauan.

Dalam kitab ‘Masail Muhtadihi Ikhwanil Mubtadi’ yang ditulis oleh Syeikh Daud Rumi terkenal dengan sebutan Teungku Chik di Leupue. Agama secara harfiah ialah diibaratkan menghimpunkan empat perkara, Iman, Islam, Tauhid dan Ma’rifat.

Dalam buku ‘Pergolakan Pemikiran Islam Catatan Harian Ahmad Wahib’ disitu ditulis “agama itu statis, sedangkan pemahamannya sosiologis dinamis. Maka, Das Sollen: Hanya satu agama. Das Sein: macam-macam agama. Tiap-tiap agama harus merasa bahwa dialah agama Allah. Dialah yang universal dan abadi”.

Bisa kita tarik kesimpulan, bahwa agama ialah sikap hidup yang benar, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Agama adalah sistem laku hidup merupakan seperangkat norma yang membentuk sikap dan etika dalam menanggapi hubungan antara diri sendiri dengan makhluk lain.

Terus kenapa salat itu bukan agama? Dalam riwayat Qatadah mengatakan, ‘Shalat pertama kali adalah dua rakaat shubuh dan dua rakaat isya.’

dengan demikian, perintah shalat pertama kali tidak langsung lima waktu, tetapi hanya dua kali sehari yaitu, dua rakaat di waktu shubuh dan dua rakaat di waktu isya.

Ajaran salat pada nabi terdahulu sudah mutlak dilakukan tanpa pengecualian. Sesungguhnya, perintah salat bukan dilakukan secara tiba-tiba, tetapi telah lama ada dan dilaksanakan.

Dr. Jawwad ‘Ali, seorang pemikir kritis dan sejarawan Muslim asal Baghdad, dalam karyanya berjudul Sejarah Shalat atau Tarikh as-Shalah fi al-Islam. Dijelaskan bahwa shalat sudah dikerjakan sebelum Islam sempurna datang. Artinya, shalat juga dikerjakan oleh orang-orang terdahulu, termasuk dalam ajaran agama Islam terdahulu.

Dalam sejarah agama Samawi (langit), shalat juga pernah dikerjakan oleh para nabi-nabi mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam kitabnya Athlas Tarikh al-Anbiya wa ar-Rusul. Pembawa agama Samawi itu adalah Islam, seperti Yahudi, Nasrani, Hanif, dan Shabiyah Mandaiyah.

Agama Islam, nabinya adalah Muhammad SAW, Yahudi (Musa), Nasrani (Isa), Hanif (Ibrahim), dan Shabiyah Mandaiyah (Yahya). Dan para nabi  tersebut juga diperintahkan oleh Allah SWT untuk mendirikan shalat sebagai suatu kewajiban atas diri mereka dan umatnya.

Jelas sudah shalat itu bukan agama, tetapi berdasarkan pengertian dalam kitab Masail Muhtadihi Ikhwanil Mubtadi ialah bahwa ‘salat itu bagian dari agama’. Karena perintah wajib shalat hanya kepada si pembawa dan si pengikut, dengan perantara agama.

Salat bukan agama, namun salat bagian dari Islam. Orang yang salat tentu Islam, tetapi orang beragama belum tentu salat.

- Advertisement -
Agung Z
Aktivis HMI yang kini Ketua Umum Forum Generasi Muda Mahasiswa Arongan Lambalek

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply