Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Tiga aspek ini cukup sulit dipersatukan untuk menjadi kesatuan paradigma yang koheren, substantif, non-superficial. Kita bisa mengombinasikan dua paradigma, namun agak mustahil menyatukan ketiganya. Mampu menjadi orang yang taat beragama, mendalami filsafat, sekaligus antusias pro-sains

Trilemmanya begini: (1) Jika anda taat beragama dan mendalami filsafat, pasti tidak pro-sains; (2) Jika anda pro-sains dan beragama, pasti kurang mendalami filsafat; (3) Jika anda berfilsafat dan pro-sains, pasti tidak taat beragama.

Saya mengategorikan F Budi Hardiman (FBH) pada trilemma pertama: beragama dan berfilsafat, namun tidak pro-sains. Ia menulis “Saintisme dan Momok-momok Lain” ikut meramaikan debat menyoal sains dan korelasinya dengan filsafat dan agama.

Tulisannya, di beberapa paragraf awal, bernada patronizing dalam mendakwa sains. Ia sengaja memilih judul dengan diksi yang detraktif (“saintisme”; “momok”). Berkotbah: “kepongahan kemajuan sains bisa menjadi dogmatisme baru.”

FBH juga mengajak untuk membuat distingsi antara “sains dengan saintisme,” sebagaimana memilah “agama dengan fideisme,” dan membedakan “filsafat dengan ideologi.”

Menurutnya, yang pertama adalah upaya mencari jawaban, yang kedua merasa telah menemukan jawaban. Perdebatan yang berlangsung, katanya, lebih pada saintisme, fideisme, dan ideologi; ketimbang soal sain, agama, atau filsafat.

FBH fokus memilih menyerang sains dengan mengupas “saintisme”, namun enggan menyentuh fideisme (agama) dan ideologisasi (filsafat). Menunjukkan bias-berpikirnya yang terjebak pada trilemma kategori pertama. Tak soal tentu, bias berpikir adalah manusiawi.

Bagaimanapun, saya tertarik menanggapi ajakannya untuk membuat debat “masuk lebih dalam”. Ia mengajukan tiga premis dan pertanyaan:

Pertama, menghadap-hadapkan agama dan sains tidak realistis; karena sains secara historis tidak dapat lepas sepenuhnya dari agama.

Kedua, New Sciences (seperti teori chaos, geometri faktal, mekanika kuantum) telah berpisah dari Newtonian mechanical worldview; ketidakpastian dan kontingensi makin mendapat tempat dalam sains.

Ketiga, hubungan antara sains dan dunia makna; realitas terdiri atas benda dan makna. Sains berhasil mengetahui benda, tetapi bisakah makna didekati oleh sains? Bagaimana menjelaskan dari benda muncul kehidupan, dan dari kehidupan muncul kesadaran?

Tulisan ini mencoba mengupas tiga premis persoalan yang diajukan FBH.

Menghadapkan Agama dan Sains

“Menghadap-hadapkan agama dan sains tidak realistis; karena secara historis sains tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari agama.” Secara prinsip premis ini valid, dalam hal “tidak bisa dilepaskan secara historis”.

Cukup banyak temuan sains yang dihasilkan oleh sejumlah saintis bukan saja terinspirasi ajaran agama, namun awal niatannya adalah untuk—secara harfiah—pengabdian pada agama.

Isaac Newton adalah quintessential saintis yang mendedikasikan hidup dan ilmunya untuk agama.

Ia menulis sejumlah “karya ilmiah” yang dapat dikategorikan occult studies (studi hal-hal ghaib), seperti astrologi, alchemy, keajaiban alam, dan interpretasi Kitab Injil, antara lain tentang nubuat second coming Yesus dan hari kiamat.

Ia berupaya menggali ulang wisdom teks kitab suci dan memaknai secara harfiah—bukan sebagai metafora atau kiasan.

Newton lahir dari keluarga gereja Anglikan, dan percaya sepenuhnya Tuhan monotheis adalah Sang Pencipta yang keberadaannya tak terbantahkan. Saat itu, abad 17, belum ada pemilahan antara sains, pseudo-sains, dan takhayul. Paradigma intelektual (Eropa) umumnya terpaku pada agama.

Newton percaya logam tumbuh di tanah seperti pohon, dunia materi itu hidup, dan gaya gravitasi disebabkan oleh emisi kimiawi garam.

Newton meyakini, Tuhan secara khusus mengutusnya untuk menyampaikan kebenaran teks kitab suci.

Ia percaya kedatangan kembali (second coming) Yesus. Dalam kalkulasinya Yesus akan datang kembali ke dunia pada tahun 2060, diikuti dengan berdirinya Kerajaan Allah di bumi yang akan bertahan hingga akhir jaman.

Newton menulis Rules for interpreting the words & language in Scripture, sebagai panduan interpretasi Kitab Injil yang benar. Ia serius mengabdikan diri mengungkap “Bible Code”, pesan-pesan tersembunyi Alkitab.

Tujuannya untuk meluruskan hal-hal yang tidak dipahami dengan baik oleh umat. Pendekatan Newton dalam mengungkap makna teks Alkitab (Book of Revelation), saat itu, jelas tidak bisa disebut saintifik. Namun ia yakin temuan-temuannya adalah hasil riset berbasis evidence.

Terlepas pada awalnya gandrung mendalami occultism, sesuatu yang lazim pada era saat itu, Newton menghasilkan karya seminal saintifik: Mathematical Principles of Natural Philosophy (1687).

Karya ini menjadi salah satu tonggak penting sejarah sains. Memaparkan tiga hukum fisika yang menjadi basis bagi Teori Gravitasi dan pengukuran pergerakan planet-planet.

Newton membawa paradigma baru: dunia yang mekanistis dan bisa diukur dengan memakai hukum fisika dan matematika (calculus). Perhitungan dan pengukuran secara matematis menggantikan dugaan, spekulasi, dan hipotesis.

Ungkapan Newton yang terkenal Hypotheses non fingo (“saya tidak terpaku pada hipotesis”) adalah kredo saintifiknya.

Hipotesa apapun tentang dunia fisika, metafisika, occultis atau mekanis, harus dibuktikan melalui eksperimentasi. Newton melanjutkan era revolusi saintifik, yang dimulai para saintis pendahulunya, seperti Galileo, Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler.

Selain Newton, saintis yang dikenal religius adalah Gregor Mendel. Seorang biarawan Khatolik, Ordo Agustinian, yang mengisi waktu luangnya untuk bereksperimen dengan tanaman dan serangga—selain berdoa.

Karyanya “Experiments on Plant Hybrids” adalah salah satu tonggak penting genetika modern, dan menempatkan dia sebagai Bapak ilmu genetika.

Mendel bukan cuma mengamati atau bereksperimen, namun juga secara kreatif merancang skema perkawinan silang (hibridisasi) pada 28.000 tanaman kacang. Semula ia bereksperimen dengan kucing, namun gereja melarang, dan menggantinya dengan tanaman dan lebah.

Ketika itu, tahun 1860-an, ia mengidentifikasi adanya “faktor tak terlihat” (kemudian dinamai “gen”) yang bertanggung jawab mewariskan ciri-ciri spesifik ke keturunan.

Ia sendirian menemukan hukum yang mengatur genetik yang diwariskan (Hukum Mendel), yang berlaku untuk semua mahluk hidup. Temuannya kemudian memperkuat Teori Evolusi Darwin dan sains genetika molekuler.

Charles Darwin dikenal sebagai saintis yang mengundang konotasi “penghujat agama” karena Teori Evolusi-nya. Namun Ia sebenarnya penganut agama Protestan non-conformist, dan pernah bercita-cita menjadi pendeta.

Ia sangat berminat mempelajari asal muasal alam, dan mendalami theologi alam (natural theology). Ia berprinsip keberadaan dan tindakan Tuhan dapat dilihat dalam fenomena alam dan dinalar melalui hukum alam.

Saat berusia 22 Ia ikut ekspedisi kapal Beagle, dengan harapan bisa melihat kawasan kepulauan tropis, keindahan alam ciptaan Tuhan, sebelum menjadi pendeta.

Saat berangkat untuk berlayar Darwin masih seorang religius ortodoks yang berhasrat melihat “kerja keillahian menciptakan alam”. Namun menjelang berakhirnya ekspedisi pelayaran ia mulai meragukan kisah penciptaan sebagaimana tertulis di Alkitab.

Ia melihat beragam spesies hewan yang secara fisiologis berubah. Ia mulai berhipotesis adanya transmutasi hewan melalui proses seleksi alam. Setelah tersedia cukup bukti ia menguraikan teorinya dalam buku “On The Origin of Spescies” (1859). Sebuah paparan temuan saintifik yang menjadi fondasi ilmu biologi evolusioner, dikenal sebagai Teori Evolusi Darwin.

Paparan sekilas pencapaian tiga saintis, Newton, Mendel, dan Darwin, di atas sekedar sebagai ilustrasi untuk menunjukkan validitas premis “sains tak bisa sepenuhnya dilepaskan dari agama—secara historis.”

Namun kaitan sejarah itu bersifat serendipities, alih-alih metodologis. Newton dengan keyakinan agamanya tertarik dengan occultisme, namun saat menulis Teori Gravitasi ia tidak menggunakan metode agama, namun memakai matematika—yang sama sekali tidak dikenal dalam Alkitab.

Mendel juga demikian, Hukum Genetika lahir bukan karena ia adalah seorang rahib Khatolik, yang mendapat “inspirasi keillahian”, melainkan karena studi sains yang ia tekuni sebelumnya di universitas dan sikap rasa ingin tahu yang besar pada kehidupan.

Sama halnya dengan Darwin, paradigmanya berubah setelah mengobservasi bagaimana cara kerja alam. Ia mengurungkan niatnya menjadi pendeta setelah menyaksikan keragaman kehidupan yang dinamis, tidak statis sebagaimana tertulis di Alkitab.

Memang benar, sains tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari agama. Namun, agama jelas bukan penyebab atau faktor pendorong penemuan sains. Juga bukan raison d’être atau conditio sine qua non bagi munculnya teori sains.

Dalam beberapa kasus Agama justru menghambat sains, khususnya temuan sains yang merongrong atau bertentangan dengan teks Alkitab. Agama dapat dianalogikan seperti kondisi cuaca untuk riset sains.

Saintis akan tetap bekerja mengobservasi, meneliti dan bereksperimen untuk mendapatkan penjelasan soal dunia. Tidak soal kondisi cuaca saat itu: hujan, mendung, berawan, atau cerah.

New Sciences dan Ketidakpastian

“New sciences, seperti teori chaos, geometri fraktal, mekanika kuantum, telah berpisah dari Newtonian mechanical worldview; ketidakpastian dan kontingensi makin mendapat tempat dalam sains.”

Premis ini juga cukup valid. Temuan-temuan sains terbaru telah mampu menjawab sejumlah pertanyaan, namun sekaligus memunculkan berbagai pertanyaan baru. Saya sudah menyentuh sekilas dalam tulisan saya sebelumnya “Kepastian Sains dan Pencarian Kebenaran.”

Saya ingin merespon dengan memberi ilustrasi soal hipotesis aether (ether). Sampai awal abad ke-20, di kalangan fisikawan terdapat “postulat” adanya medium universal yang memerantarai berbagai interaksi fenomena alam, seperti gelombang cahaya dan gaya gravitasi.

Sebagaimana air yang memiliki substansi (medium) penyebab permukaan air bergelombang, maka suara, cahaya, dan gravitasi diduga juga memiliki medium.

- Advertisement -

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply