Komunikasi Lintas Budaya Akademik dan Politik

dok. medium.com

Belumtitik.com – Standar muatan setiap bahasa manusia dapat ditilik dari sejumlah sistem atau peringkat susunan fonologi, morfologi, sintak, semantik, dan simbolik (Goodenough, 1981).

Dua aspek yang terakhir, semantik dan simbolik, menyangkut artikulasi bahasa dengan aneka aspek budaya lainnya. Meskipun secara dasariah kesemua aspek muatan bahasa tersebut inherent dengan budaya, namun kedua aspek dimaksud untuk bidang akademik dan politik lebih menarik.

Secara kasat mata aspek semantik dan simbolik membahani pemakai
bahasa, termasuk bahasa Inggris, bahwa komunikasi yang sifatnya lintas budaya akademik dan politik berkaitan langsung dengan keduanya.

Makna kata atau ekspresi, bahkan simbol atau image yang terbangun olehnya bisa berbeda, bahkan paradoks untuk suatu budaya dengan yang lain.

Karena itu, adalah rasional atau setidaknya dapat dipahami, jika aspek semantik dan simbolik menggelitik banyak pemerhati untuk dikaitkan dengan ranah komunikasi lintas budaya, khususnya dalam bidang akademik dan politik.

Baik terminologi ”akademik” yang diasosiasikan dengan ”objektif, apa adanya”, maupun istilah ”politik” yang sering dilihat ”subjektif, berliku, dan sarat dengan ketidakpastian” ternyata selalu saja diwarnai aspek semantik dan simbolik yang sarat muatan budaya.

Jika komunikasi dalam suatu budaya saja terbuka untuk multi interpretasi, salah makna dan paham, dapat dibayangkan bagaimana peliknya kalau suatu komunikasi lintas budaya terjadi dalam ranah akademik, di mana meaning mesti digali dalam akar budaya penemu suatu bidang keilmuan dan teknologi.

Kepelikan yang sama juga dapat terjadi dalam ”kapling” politik dan kekuasaan yang notabene penuh liku dan intrik.  Dalam kepelikan inilah bahasa Inggris terbukti semakin memainkan peran dominan.

Jika diamati, sepanjang sejarah peradaban manusia roh dari semua bahasa memang selalu dikaitkan dengan kekuasaan baik yang bernuansa akademik mapun politik (Maurais & Morris, 2005).

Antara bahasa, termasuk bahasa Inggris, dan semua aspek kehidupan dan bidang keilmuan lainnya saling mempengaruhi. Dalam risalah ini, dengan demikian, penulis hendak menyatakan bahwa dunia akademik dan politik mengkonstruk substansi dan gaya bahasa.

Sebaliknya, bahasa (Inggris) juga mengkonstruk dunia akademik dan politik. Anderson (1990) mengkaji keterkaitan antara bahasa dan kekuasaan, bahkan dalam budaya akademik dan politik Indonesia juga terdeteksi secara kasat mata. Adalah menarik untuk menggali makna terdalam dari begitu banyak evolutive words yang dipakai penguasa terhadap ”yang dikuasai”.

Fenomena ini lumrah terjadi dalam berbagai budaya kekuasaan akademik maupun politik. Gordon (1969) menyatakan bahwa suatu bahasa komunikasi selalu saja diwarnai faktor subjektif seperti emosi, sikap dan faktor psychologics lainnya.

Karena itu, the suggested atau implied meaning dari kosakata yang dipakai oleh penguasa menentukan keputusan pada tataran pragmatis (Anderson, 1990).

Literatur Linguistik pada umumnya menjelaskan bahwa sistem semantik berkaitan dengan standar dimana orang memilih-milah kosakata dan ekspresi tertentu untuk mengkomunikasikan makna yang diinginkan baik dalam ranah akademik maupun politik.

Kosakata dan ekspresi yang digunakan selalu, sadar atau tidak, ditentukan konteks: waktu, tempat, dan keinginan (intention) pemakai bahasa (interlocutor) itu sendiri (Perry, 2008).

Memang ciri terpenting dalam menggunakan bahasa untuk berkomunikasi yaitu bahasa tersebut tidak pernah terisolasi tapi selalu diasosiasikan dengan suatu konteks (Hayakawa & Hayakawa, 1990; Young, 2008).

Konteks ini sifatnya kultural, dan karena itu pilihan atau keputusan pemakai bahasa dalam menggunakan kosakata atau ekspresi tertentu ditentukan latar kulturalnya. Untuk memahami ekspresi tersebut, termasuk dalam budaya akademik, kita mesti mendalami aspek emik suatu budaya (Daud, 2000).

Jika diamati secara intens, konteks budaya dengan segala
keberagamannya merupakan “wilayah” yang selalu digeluti akademisi atau dihadapi politisi dalam menjalankan tugasnya.

Dalam hubungan ini, komunikasi yang berlangsung antar interlocutor (baik akademisi maupun politisi) dari kultur beda dapat saja berbenturan jika mereka hanya mempekerjakan makna kultural sendiri dalam berkomunikasi.

Jadi, komunikasi lintas budaya akademik dan politik mengharuskan para interlocutor untuk mampu mempekerjakan makna kultural selain dari yang inherent telah melekat pada diri masing-masing.

Di sini, kesediaan untuk membuka diri dengan pemahaman yang berbeda dan mindset yang adaptif terhadap keberagaman merupakan sesuatu yang mutlak dibutuhkan.

Dengan demikian, paradigma akademik atau politik konvensional
yang cendrung merujuk pada suatu aliran pemikiran atau cara pandang tertentu agaknya counter productive bagi kesuksesan komunikasi lintas budaya di era global. Yang jauh lebih kultural dan berpeluang amat politis sifatnya berkaitan dengan sistem simbolik, salah satu ranah linguistik.

Sistem simbolik terdiri atas berbagai prinsip yang mengatur penggunaan aneka bentuk linguistik yang bersifat ekpresif dan evokatif (Goodenough, 1981; Hayakawa dan Hayakawa, 1990).

Penggunaan bahasa atau ekspresi dalam konteks ini tidak menyangkut
makna denotatif atau konotatif, namun lebih pada apa yang mengarah atau “menyarankan” interlocutor untuk memaknainya (implied).

Gordon (1969) menekankan bahwa simbolism dan pemahaman proses metaforiknya amat mendasar dalam semua kajian untuk memahami komunikasi secara logis, psikologis, atau dalam peoses dimana komunikasi itu terjadi.

Secara spesifik sistem simbolik ini mengacu pada hubungan nondenotatif akan perilaku komunikasi (lisan) dengan sistem perilaku konseptual lainnya.

Barangkali, realita ini pula yang menggelitik pakar bahasa Chomsky dari Massachussetts Institute of Technology untuk lebih banyak mengkaji fenomena politik ketimbang linguistik itu sendiri(Chomsky, 1977), yang menemukan bahwa sistem simbolik yang didalami dan praktekkan menurut (sosio)linguistik lebih mampu mengkomunikasikan tujuan (akademik, termasuk politik) yang disampaikan interlocutor dari latar budaya beda. Dengan mendalami sistem simbolik mengasah kepekaan terhadap keberagaman yang ada disekitar kita.

Amatan kami menunjukkan bahwa hampir semua pertengkaran mulai dari yang sifatnya pada tataran individual, komunal/sosial, lokal, nasional, regional, sampai yang bernuansa internasional bahkan global secara signifikan ditentukan bahasa (khususnya sistem semantik dan simbolik). Sistem yang dipakai interlocutor dapat mencapai sasaran komunikasi secara positif, atau sebaliknya melahirkan benturan di antara aktor komunikasi tersebut.

Memang bahasa yang lazim didefinisikan sebagai alat untuk berkomunikasi dalam realita emperis dapat, atau bahkan sering, juga digunakan sebagai alat untuk tidak saling berkomunikasi baik karena ketidakpahaman (mutual misunderstanding) maupun karena ketidakmauan untuk memahami (Taylor, 1992).

Sejumlah contoh yang dikemukakan pada awal risalah ini menunjukkan
komunikasi yang hendak dibangun bisa gagal karena benturan budaya. Benturan budaya ini bahkan dapat berujung parah pada ketidakpahaman yang menimbulkan “malapetaka” komunikasi baik dalam konteks akademik maupun politik.

Ini menunjukkan bahwa bahasa tidak selalu dapat dipakai untuk menjalankan fungsinya sebagai alat komunikasi, tapi juga sebagai alat miskomunikasi (Taylor, 1992).

Dalam konteks akademik, amatan menunjukkan bahwa kegagalan mahasiswa asing di suatu negara lebih karena faktor komunikasi dan penguasaan bahasa yang melingkupi substansi kulturalnya ketimbang faktor kompetensi akademik. Mahasiswa yang gagal lazimnya cendrung menggunakan nilai budayanya dalam menggunakan bahasa asing (Inggris) tersebut.

Mereka tidak mampu atau alpa menggunakan bahasa Inggris sesuai konteks. Kachru dan Smith (2008) menyitir bahwa pertumbuhan, pengembangan, dan penggunaan bahasa Inggris di dunia tak mungkin dilepaskan dari aspek budaya dan konteks yang mengitarinya.

Mereka lebih jauh menyatakan bahwa bahasa Inggris semakin berperan sebagai sarana diskursus akademik, budaya, diplomatik, hukum, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Yang jauh lebih serius justru kalau bahasa dipakai untuk saling memulai atau menuai konflik, pertengkaran, perkelahian, atau bahkan peperangan sekalipun.

Ada amatan yang mendorong penulis untuk mendalami sekmen sosial-budaya politik dari bahasa ini. Di hampir setiap perkelahian antar pribadi atau kelompok orang, selalu saja diawali dengan perang mulut (maksudnya menggunakan kosakata atau ekspresi yang saling menuding, merendahkan, menghina, mengancam, menjuarai diri, dan semacamnya, yang acapkali berujung pada hunjuk kekuatan fisik).

Dalam bahasa Aceh, baik di kota terlebih lagi di desa, ketika orang hendak berkelahi sering melontarkan ucapan “ngen kee bek kaci” (kalau dengan saya, jangan kau coba-coba).

Dalam hampir semua bahasa dan budaya di dunia rupanya ada ekspresi (verbal dan atau nonverbal) serupa meskipun tidak sama. Bahkan, pada momentum yang begitu emosional, sakral, dan bermakna begitu dalam, justru ekspresi nonverbal dirasakan melekat dan tak pernah terlupakan oleh lawan bicara (Borisoff dan Merrill, 1992; Hall, 1981).

Ekspresi wajah atau bahasa tubuh pada umumnya dapat menyulut emosi hingga berkelahi, atau sebaliknya dapat membuat antar interlocutor atau audience terharu, saling berpelukan untuk memaafkan, mencintai, atau yang positif lainnya.

Dalam konteks masyarakat, khususnya dalam kaitan dengan komunikasi lintas budaya, juga terlihat bahwa banyak pemicu-pacu konflik, pertengkaran, atau perdamaian pada tataran yang masif dan interkultural sifatnya.

Untuk menyebut beberapa saja, misalnya, pidato Tgk. Daud Beureueh, T. Nyak Arief, Tgk. Muda Wali, atau Prof. Ibrahim Hasan (konteks Aceh), Soekarno, Agussalim, dan Tan Malaka (Indonesia/nasional), Hitler, Nelson Mandela, Kennedy, Barrack Obama (internasional), dapat mendorong publik untuk beraksi “cerdas” dalam menggerakkan massa baik untuk tujuan damai maupun sebaliknya.

Boleh jadi bahasa yang dipakai mereka cukup populer untuk pendukung atau publik mereka saja, namun tidak untuk yang lain. Ada contoh yang lebih spesifik selain yang disebutkan di atas. Sebelum terjadi perang teluk yang menghancurkan Irak, baik Presiden Amerika Serikat

George Bush maupun Presiden Irak Sadam Husein ketika itu telah terlebih dahulu melakukan perang mulut (komunikasi) dimana bahasa Inggris demikian mengemuka dan dominan digunakan berbagai media internasional dan global.

Para aktor politik tersebut, dengan metoda dan strategi masing-masing berupaya untuk merebut dukungan publik dunia dengan menjadikan peperangan itu begitu rasional untuk terjadi.

Dalam perang propaganda seperti itu, para aktor lazim melakukan manuver dengan cara meramu, menyesuaikan, atau bahkan memanipulasi makna kosakata yang dipakai agar sesuai dengan maksud pada saat itu (Pettit, 2008).

Kosakata suatu bahasa, tidak terkecuali bahasa Inggris, memang dapat digunakan secara tidak tulus, penuh intrik, untuk menukik atau memanipulasi makna yang diinginkan pemakainya (Hayakawa & Hayakawa, 1990).

Pettit (2008) menggunakan frasa intentional communication untuk menjelaskan maksud komunikasi semacam itu. Dalam komunikasi yang berbahasa Inggris, dengan kosakata atau ekspresi yang terkadang bahkan begitu provokatif, dipakai untuk meraih kemenangan pada tataran propaganda.

Propaganda dapat berfungsi sebagai pemicu, tapi yang lebih sentral bahkan sebagai pemacu kemenangan peperangan pada tataran nyata dan luas (Ellul, 1965).

Sudah tentu, meskipun diakui karena media dunia berada di tangan penguasa adidaya yang membuatnya menang, yang tidak kalah menentukan adalah bahwa bahasa yang dipakai Bush dinilai lebih metaforik sehingga mampu menggelitik publik untuk memihak padanya.

Salah satu alasan atas fakta ini adalah karena bahasa Inggris memang bahasa ibu Bush, sementara Saddam Husein paling menggunakan istilah yang terkadang tidak begitu mengena dalam konteks komunikasi global saat itu.

Realita komunikasi politik seperti ini, yang terkonstruk dari konteks global yang telah dikuasai Bush, agaknya tidak menguntungkan bagi Saddam Husein, para pendukungnya, dan tentu saja rakyat Irak. Situasi ketika itu, yang juga sampai sekarang, bertambah sulit karena media dunia dikuasai pemimpin negara adidaya tersebut.

Bahasa, apalagi bahasa Inggris yang jumlah kosakatanya semakin banyak, memang tak dapat dipahami secara utuh tanpa mengaitkannya dengan pengalaman emperis pemakainya, baik yang kita pakai atau dipakai untuk kita dalam kehidupan keseharian secara nyata (Lakoff, 1990).

Karena itu, ketika pemakai bahasa ini berada di posisi menara gading, jauh dari konteks pemakaian dalam kehidupan keseharian, dipastikan tidak mampu menyentuh makna terdalam dari bahasa tersebut.

Inilah yang dialami penutur suatu bahasa, yakni ketika harus mengekspresikan sesuatu yang sarat makna kultural atau menyentuh rasa terdalam dari kehidupannya yang begitu emosional, seringkali diungkapkan dalam bahasa ibu yang telah menyatu dalam dengannya.

Makanya, ketika seseorang menggunakan bahasa yang belum menyatu dengannya (atau bukan bahasa ibunya) dalam mengkomunikasikan sesuatu yang pelik, dapat terjadi benturan komunikasi yang lazimnya tidak disadari (potential conflict of communication).

Karena itu, bentuk komunikasi disini mesti menyeluruh dan menyentuh ”wilayah peka” dengan siapa seorang interlocutor berkomunikasi. Pada dasarnya inilah esensi komunikasi politik (Negrine & Stanyer, 2007).

Esensi bahasa, terutama bahasa Inggris, menjadi semakin penting dan menentukan sasaran komunikasi dalam hubungan dengan komunikasi lintas budaya sosial-politik di era global.

Menyadari potensi terjadinya benturan dalam aneka bentuk komunikasi dimana bahasa Inggris dipakai sebagai alatnya, dalam hampir semua program studi atau jurusan bahasa asing, Ilmu Komunikasi, dan Hubungan Internasional biasanya menawarkan sejumlah mata kuliah seperti Crosscultural Communication, Crosscultural Understanding, atau nama sejenis lainnya.

Kesemua mata kuliah ini ditujukan untuk membahani mahasiswa akan pentingnya pemahaman interkultural dari bahasa yang dipelajari sehingga komunikasi yang menggunakan bahasa tersebut, tidak hanya mengurangi dampak negatif tapi juga yang lebih penting dapat mencapai sasaran optimal (Suparmin, 2005). Dalam era kekinian dan keakanan, bahasa Inggris secara khusus telah meraih posisi sentral dalam konteks komunikasi global.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya Bahasa Inggris Sebagai Alat Komunikasi Lintas Budaya Akademik dan Politik di Era Global

- Advertisement -
Dr. Darni M. Daud
mantan Rektor dan Professor Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply