Implementasi Nilai Pancasila oleh Rakyat Aceh

Sila kedua Pancasila

Di tengah melajunya korban terinfeksi korona di Aceh. Di tengah krisis ekonomi yang diakibatkan korona, rakyat Aceh kedatangan korban kemanusiaan. Mereka perempuan dan anak serta pria dari Rohingya.

Meski pemda Aceh Utara ragu, namun tidak dengan rakyatnya. Mereka terjun langsung menghampiri perahu yang membawa ‘tamu’ dari Rohingya. Rasa kemanusiaan mengalahkan korona dan perbedaan etnis serta bangsa.

Sungguh yang mereka lakukan merupakan implementasi nilai sila kedua Pancasila, sekaligus nilai ajaran Islam sejati. Rakyat Aceh memang telah merasakan kejamnya konflik selama 30 tahun lebih.

Sudah pernah merasakan bagaimana konflik telah menumpahkan darah, air mata dan hilangnya nyawa orang-orang yang dicintai dan sayangi. Bahkan anak-anaknya kehilangan masa depan.

Rasa empati tercermin dari sikap rakyat Aceh terhadap ‘tamu’ dari Rohingya. Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Meski rakyat Aceh sendiri masih belum benar-benar merasakan adil dan beradab.

Namun untuk menegakkan kemanusiaan yang adil dan beradab tak harus menunda merasakan hal yang sama. “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”(QS. 2:148). 

Tentu di musim kampanye kita kerap menyaksikan perlombaan berbuat baik. Namun kita paham tidak semua kebaikan yang dilakukan politisi pada musim kampanye benar-benar ikhlas. 

Pastinya solidaritas yang dilakukan rakyat Aceh sangatlah ikhlas. Mereka hanya mengusung kepentingan kemanusiaan. Menjalankan sila kedua Pancasila tanpa perlu teriak “Kami Pancasilais sejati”. 

Teladan bermanusia yang dipertontonkan rakyat Aceh patut diapresiasi. Bahkan dapat dijadikan bukti nyata, bukti sejarah, bahwa rakyat Aceh itu memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan dan sangat damai.

Di dalam temuan ilmiah dikatakan bahwa orang yang senang menolong orang lain akan dijauhkan dari penyakit. Sebabnya sel-sel akan hidup (on). Di dalam tubuh manusia, sel-sel itu ada yang on-off yang dipengaruhi oleh nutrisi, olahraga, dan yang tak kalah pentingnya dipengaruhi oleh emosi seseorang. 

Emosi terkait dengan jiwa kita. Orang-orang yang optimis, pemaaf, dan senang menolong orang lain akan memiliki jiwa yang sehat.

Apa yang dilakukan rakyat Aceh bukan hanya sesuai dengan ajaran Islam, semangat Pancasila, akan tetapi merupakan usaha meningkatkan imunitas di tengah serbuan korona.

Dalam kehidupan bernegara, apa yang dilakukan rakyat Aceh hendaknya menulari seluruh rakyat Indonesia. Silakan beda partai, pilihan politik, agama, warna kulit, namun kesamaan kita sebagai manusia jangan dilupakan. 

Pesan Pancasila terutama sila kedua ditangkap dengan jernih oleh rakyat Aceh. Jadi, jika ada yang masih meragukan sikap rakyat Aceh terhadap Pancasila, peristiwa itu sudah cukup menjawab tanpa perlu seminar dan workshop Pancasila. 

Tentu saja rakyat Aceh jangan sampai jumawa dengan pujian manusia. Jangan sampai kebaikan yang telah dilakukan terinfeksi virus sombong. Jangan sampai sirna kebaikan itu.

Peristiwa penyambutan ‘tamu’ dari Rohingya ini juga bersamaan dengan polemik RUU HIP di Jakarta. Jika di Jakarta berbicara tataran konsep maka di Aceh bicara dengan perbuatan. 

Polemik RUU HIP berpotensi melanggar sila ketiga Pancasila. Masing-masing kelompok merasa benar. Dalam Pancasila sebenarnya ada solusi ketika dua pendapat bersebrangan. Melalui musyawarah mupakat. 

Di dalam negara demokrasi, penyampaian pendapat dimuka umum memang dihalalkan. Namun jangan sampai memperjuangkan Pancasila, di saat bersamaan menginjak-injak nilai Pancasila.

Pesan dari Aceh dan Papua sebenarnya cukup jelas. Pancasila yang hanya berupa teks dan hafalan tiada manfaat bagi rakyat. Di Papua penangkapan aktivis politik masih terjadi, di Aceh kesepakatan damai masih banyak yang terbengkalai.

Begitupun, sebagai sebuah negara yang sepakat dengan perbedaan, sepakat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, Indonesia harus kembali merenung. 

Sembari merenung, ada baiknya negeri ini terus menatap masa depan dengan optimis. Mengembangkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara, seperti yang dicontohkan rakyat Aceh terhadap bangsa Rohingya.

Selain itu, negara harus hadir dalam setiap momen kehidupan rakyatnya. Masih banyak fakir-miskin dan anak telatar yang wajib diberi makan namun kenyataan masih sering kelaparan.

Kasus stunting di Indonesia menurut WHO sampai tahun 2019 menunjukkan ketiga terbesar di Asia. Itu artinya masih sangat banyak Indonesia yang terganggu pertumbuhan dan perkembangannya.

Bukan hanya pertumbuhan fisik, pertumbuhan intelektual juga sangat penting. Ini menyangkut dengan masa depan negeri. Para orang tua harus mendapat dukungan dari pemerintah.

Dan puluhan persoalan lainnya yang tak akan selesai jika negeri ini hanya meributkan RUU HIP dan Pancasila. Rakyat lebih butuh kerja nyata bukan bualan di tengah pandemi, bukan bualan tentang nilai-nilai Pancasila di seminar dan workshop.

Rakyat Aceh sudah mempraktikkan sila kedua saat menjemput bangsa Rohingya. Negara kapan membuktikan sila kedua dan kelima yang selama ini paling sering diabaikan?.

- Advertisement -
Don Zakiyamani
Penikmat Kopi Senja

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply