HMI ‘Kakek’ Indonesia

Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia sudah barang tentu menjadi idaman dan dambaan setiap calon dan kader-kader nya.

Hari ini telah mencapai 72, eksistensi HmI sangatlah kokoh fondasi yang dikonstruksi oleh eksponen Ummat dan Bangsa oleh Lafran pane dan empat belas orang lainnya merupakan sebuah fenomena khas yang diberikan terhadap Ummat bangsa dan peradaban.

Ditambah lagi sampai saat ini HMI sangat di Agung-agungkan oleh semua kalangan. Sangat banyak torehan sejarah dan gagasan cemerlang yang di berikan kepada bangsa ini.

Kenyataan itu telah dilewati dan menjadi sejarah tersendiri bagi HMI. Dalam melawan penjajah, memusnahkan PKI dan menumbangkan kekuasaan otoriter soeharto. Pasti nya itu semua dijalani dengan modal intelektual dan kecakapan dalam berorganisasi .

Jika digambarkan dalam bentuk manusia, HMI Bapak Tua berjanggut yang memakai kopyah sedang duduk melihat Indonesia berkembang menuju era posmodernitas. Beliau sudah pernah mengawasi Indonesia selang beberapa tahun sesudah negeri ini lahir, sehingga secara pengalaman, Pak Tua ini sudah banyak makan asam garam.

HMI juga melahirkan para cedekiawan yang memberi gagasan menarik seperti Cak Nur, Djohan Effendi, Dawan Rahardjo, Ahmad Wahib dan lainnya. Cetakan cendekiawan HMI yang hadir di era pemerintahan Soeharto pun sangat banyak, ada pula yang menjadi kesayangan menteri keuangan saat itu, Pak Ali Wardhana.

Yang paling terkenal dini adalah adalah (alm) Mar’ie Muhammad.  Selama ia menjadi bawahan Pak Ali, tidak pernah sekalipun ia menerima suap dalam bentuk apapun maka dari itu julukan Mr.Clean sangat cocok disematkan kepada Pak Mar’ie ini.

Tidak hanya dulu saja, sekarang pun Pak tua sangat banyak melahirkan kader-kadernya berupa alumni. Apalagi alumni yang berkiprah di pemerintahan saat ini, hampir semua wajah orang hebat yang terpampang di publik itu alumni dari HMI, seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Pramono Anung, Mahfud MD, Zulkifli Hasan, Ade Komarudin dan sederetan nama lainnya yang masih sangat banyak untuk disebutkan.

Bunyi sederhananya seperti :
“Jangan hancurkan HMI, Jika kau menghancurkan HMI maka Kau menyakiti Indonesia!”

Paling tidak begitulah kalimat yang cocok untuk merangsang sejarah negeri pancasila ini.

Adanya pelatihan Ideopolstratak (Ideologi, Politik, Strategi dan Taktik) membuat alumni HMI sama sekali tidak asing dengan dunia perpolitikan di Indonesia. Menariknya alumni HMI juga tersebar hampir di semua yang ada di negeri ini. Meskipun saat beralumni memang dilarang memasuki partai apapun karena independensi organisatoris (sudah menjadi aturan mutlak).

Politik memang asik untuk diarungi, tapi birokrasi juga tidak tanggung-tanggung untuk diambil alih pula bagi alumni HMI. Namun tidak hanya di politik saja, cetakan dalam bidang ini mereka lebih memilih menjauh dari politik, yaitu para akademisi dan intelektual murni.

Acapkali mereka disebut orang intelektualitas tinggi dalam memberi contoh terutama di HMI, sebut saja Nurcholish Madjid yang kerap disapa Cak Nur, Ahmad Wahib yang menulis ‘Pergolakan Pemikiran Islam’, banyak dari mereka yang memilih jalur menjadi dosen dan mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan seperti Dawam Rahardjo yang pernah diundang dalam Diskusi Nasional GMNI sebagai penceramah pada tanggal 6-7 Juli 1981 dalam rangka Program Studi Ekonomi Pancasila (bisa dibilang Pak Dawam ini adalah cucu HMI yang paling progresif), bahkan sampai menjadi guru dan wafat dalam pengabdiannya seperti Pak Budi Cahyono.

Cucu ini adalah tonggak utama dimana sumber utama dari suburnya HMI, kemampuan para kadernya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dimana mereka berkuliah, karena kualitas insan pertama di HMI adalah Insan Cita, bukan insan politik.

Namun datang orang bertanya, “Lantas mana Islamnya? Kenapa tidak ada ahli agamanya?”. Tenang, keIslamannya sudah menjadi darah di dalam tubuh kader dan alumni sehingga usang dipertontonkan ke publik, lagipula berdakwah bukanlah pekerjaan melainkan kewajiban seluruh umat Islam di dunia.

Agamawan bukanlah profesi melainkan pekerjaan sehari-hari kader HMI. Memang tidak dipungkiri lagi bahwa kader HMI sering dicap sekuler dan liberal. Tidak ada dalam umat Islam itu fundamentalis atau liberalis, semuanya fundamental karena mengacu kepada Al-Qur’an dan Al-Hadis dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak perlu sekiranya memperlihatkan ibadah kita kepada publik karena nanti akan dituding riya’.

Kader-kader HMI memiliki acuan dalam bertindak yaitu NDP “Nilai Dasar Pemikiran”. NDP adalah sebagai ideologi HMI. Yang dimaksud dengan ideologi adalah suatu gagasan yang dijadikan acuan dalam bertindak.

NDP diciptakan oleh Cak Nur dan dua teman nya. Ia menjadikan NDP sebagai landasan berpikir dan bertindak nya organisasi ini.

HMI sebagai Pak Tua sendiri memiliki anak-anak nakalnya. Memang tidak boleh dipungkiri “ada” alumni HMI yang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, namun kesalahan itu dilakukan secara personal, tidak secara kelembagaan HMI.

Harapan bangsa ini bertumpu pada pendidikan. Dan HMI, seperti yang dikatakan oleh Jenderal Sudirman, adalah Harapan Masyarakat Indonesia.

Meskipun sudah Tua akan tetapi jiwa muda tetap tumbuh di badan. “Dimana kaki dipijak disitulah HMI dijunjung”. Hanya tulisan pendek ini yang bisa dihadiahkan kepada Pak Tua.
Selamat Milad HMI ke 72.

 

Disclaimer : channel opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang. silahkan kirim sanggahan ke redaksi@belumtitik.com.

- Advertisement -
Agung Z
Aktivis HMI yang kini Ketua Umum Forum Generasi Muda Mahasiswa Arongan Lambalek

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply