Dunia Pasca Amerika

Belumtitik.com – Penulis terkemuka Amerika (baca: Amerika Serikat, AS) kelahiran India yang kini menetap di New York, Fareed Zakaria, menulis banyak buku dan artikel yang menarik perhatian dunia intelektual dan politisi. Salah satu bukunya–The Post American World- yang dipublikasi pada 2008 oleh W. W. Norton & Company, New York dan London, menggelitik dunia karena analisis prediktifnya.

Didukung data yang komunikatif thesis Fareed agaknya kini semakin terbukti, tapi penulis melihat belum pada tataran konklusif. Fareed mengupas bagaimana pergeseran kekuatan global yang diawali dunia barat (Eropa), menuju AS, dan kini munculnya kekuatan global baru sebagai pergeseran ketiga yang diistilahkan the rise of the rest.

Apakah demo masif dan dinamika politik negeri Paman Sam itu dalam beberapa waktu terakhir, yang ditengarai belum pernah seperti ini sejak berakhir Perang Dunia II, sebagai pertanda terbuktinya analisis Fareed, atau ini semua justru baru menapaki babak penyisihan dan masih terlalu dini untuk ”menentukan“ penguasa global baru, the new world superpower. Apakah fenomena Amerika mutakhir telah menjadi bukti yang memadai untuk membenarkan analisis penulis terkemuka New York Times terkemuka yang keturunan Asia itu?.

Fareed dalam bukunya itu mengemukakan bahwa munculnya kekuatan Eropa pada abad ke-15 dan menancap tajam di akhir abad ke-18 menghasilkan kemajuan yang mencakup kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, perdagangan dan kapitalisme, serta revolusi pertanian dan industri.

Kemajuan dalam aneka bidang ini menjadikan Eropa sebagai dominasi kekuatan politik dunia yang cukup lama. Dari literatur sejarah yang ada, jika dikaji secara mendalam, pada dasarnya munculnya Eropa adalah sebagai pergeseran, bahkan derivasi dari, kemajuan dunia Islam (Timur Tengah dan sekitarnya).

Pergeseran kedua, dari Eropa ke AS, terjadi menjelang penutup abad ke-19. Segera setelah mengindustrialisasikan dirinya, AS menjadi negara-bangsa terkuat sejak imperialis Roma. 

Kekuatan yang dicapai AS ini ditengarai tak mampu ditandingi bahkan oleh gabungan semua kekuatan negara-bangsa dunia sekalipun.

Dalam dua dekade terakhir AS mendominasi ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan budaya global. Capaian AS ini diakui sebagai kecanggihan spetakuler dalam sejarah modern. Karena itu, AS dijuluki superpower global.

Kini kita hidup dalam kecanggihan gelombang ketiga, the rise of the rest, dari sebuah era modern.

Fareed bukanlah hendak menunjukkan bahwa kekinian dan keakanan AS yang oleh sebagian kalangan dianggap semakin sirna sebagai kekuatan dominan dunia (apalagi karena AS masih tetap mendominasi kekuatan politik-militer), tapi justru yang mengagumkan adalah akselarasi kemajuan sejumlah negara seperti Cina, India, Rusia, Brazil, Afrika Selatan, dan bahkan Indonesia yang semakin menjadi penentu ekonomi dunia.

Sayangnya, meskipun membuat kita unhappy, analisis kontemporer mulai meragukan penyebutan negara-bangsa terakhir. Pertumbuhan ekonomi beberapa negara di atas, secara signifikan mengkonstruk dunia global baru yang drastis mengikis kekuatan global lama dan kontemporer, Eropa dan AS.

Dengan kata lain, yang terjadi sekarang bukanlah memudarnya kekuatan AS di panggung dunia, tapi justru melejitnya pertumbuhan kekuatan global baru.

Menariknya lagi, apakah cukup rasional dan korelatif dengan dinamika global yang dipicu-pacu Covid 19, Corona Virus Desease yang bermula akhir 2019 itu, mendukung thesis Fareed, the new global power(s) come(s) true?

Kekuatan Global Baru
Ketika AS dalam dua dekade terakhir lebih terpaku pada isu terorisme, imigrasi, keamanan internal, dan kepanikan ekonomi yang menghantamnya, lahirnya kekuatan global baru justru secara berarti semestinya mendorong penduduk bumi untuk sigap menghadapi dinamika mutakhir dunia.

Dinamika ini agaknya mendefinisikan dunia secara berbeda dalam beberapa dekade mendatang, tidak seperti halnya pendefinisian dunia dalam dua dekade sebelumnya.

Seiring dengan dinamika ini mulai terajut paradigma yang melihat bahwa kekuatan dunia global secara perlahan, namun pasti, diharuskan berbagi dengan kekuatan global baru.

Kekuatan sentral dunia dalam berbagai bidang yang selama ini dimainkan AS dipastikan tidak dapat berpacu seperti sebelumnya. Pendefinisian era kemunculan Asia (the rise of Asia) juga agaknya tidak begitu akurat karena faktanya kekuatan global baru ini tidak hanya terdiri dari negara-bangsa Asia, atau bahkan kawasan Asia Timur sekalipun, tapi mencakup negara-bangsa tertentu dunia di kawasan Eropa, Australia, Amerika (Latin), dan bahkan Afrika, selain Asia itu sendiri.

Jika sebelumnya ketika bicara tentang gedung pencakar langit, orang terkaya dunia, pesawat terbesar dan tercanggih, supermarket terbesar, dan banyak lagi untuk ukuran dunia, publik jelas berpaling ke AS.

Tapi kini, jika hendak melihat pencakar langit orang tidak lagi ke New York, namun ke Dubai atau Taiwan. Begitu juga orang terkaya dunia hari ini berada di Meksiko, pesawat terbesar dan bahkan tercanggih hari ini adalah buatan Rusia dan Ukraine, bahkan dari dari sepuluh pusat perbelanjaan terbesar (shopping mall) dunia sekarang, hanya satu saja berlokasi di AS.

Shopping mall terbesar dunia kini juga tidak lagi di AS, tapi justru berada di Beijing. Mengemukanya kekuatan global baru, sebagaimana terlihat dari indikator pasar di atas, memberikan pemahaman bahwa kita sedang berada atau lagi menyaksikan pertumbuhan global secara ”murni”.

Lebih jauh, kekuatan global di era sekarang bukan hanya keharusan berbagi kekuasaan antar negara-bangsa yang ada, termasuk sesama kekuatan baru, tapi keharusan berbagi atau bergeser dari aktor negara kepada aktor non- negara (non-state actors).

Non-state actors ini mulai mengemuka dan berkuasa bahkan melebihi negara-bangsa itu sendiri. Negara-bangsa yang lemah kelihatannya menjadi sangat naif berhadapan dengan para aktor ini.

Keharusan berbagi dengan non-state actors, bukan saja dalam pengertian dengan lembaga internasional seperti World Trade Organization dan International Monetary Fund, tapi juga dengan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Non Governmental Organization (NGO) yang kini semakin menjamur di sekitar kita.

Gerakan dan fokus merekapun cukup bervariasi, berpindah cepat dari satu lokasi ke yang lain, bahkan semakin banyak saja diantara mereka malah tidak berkantor, tapi bergerak secara virtual atau dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet.

Meskipun demikian, pengaruh mereka cukup besar. Fakta ini, yang sebelumnya ditilik sebagai fenomena biasa, telah menjadikan dunia modern amat berbeda dengan dunia ”tempoe doeloe”.

Kelompok orang atau bahkan individu yang sudah demikian terlatih, diberdayakan, jelas memiliki pengetahuan dan ketrampilan tidak hanya untuk sekedar bersanding, tapi juga untuk bertanding, dengan negara-bangsa yang telah terorganisir sistematik dan sistemik.

Dengan kemampuan ini mereka mampu untuk tidak lagi melihat dunia sebagaimana sediakala. Kemampuan yang ditopang ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir telah memberi peluang bagi mereka untuk secara intens mempekerjakan pendekatan sistemik dimana sistem herarki, sentralisasi kekuasaan, dan pengawasan konvensional menjadi tidak berlaku lagi.

Realita di atas mengkonstruk suatu sistem global, yang definisinya multifasial, dimana setiap negara-bangsa tidak lagi sekedar menjadi objek atau pengamat tapi justru sebagai ”pemain” meskipun dalam kadar dan kapasitas berbeda.

Inilah yang ditengarai sebagai ciri awal kelahiran tatanan global baru yang merupakan refleksi bermunculan kekuatan yang berciri keberagaman negara, bangsa, bahasa, dan bahkan agama.

- Advertisement -
Dr. Darni M. Daud
mantan Rektor dan Professor Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply