Dongeng Kerajaan Samudera

Sumber foto: liputan6

Belumtitik.com — Pada suatu hari, sekawanan udang sedang berenang di kedalaman laut yang luas. Secara kebetulan mereka mendengar pembicaraan dua ekor ikan tuna yang tidak mengetahui kedatangan mereka.

“Teman, tahukah engkau siapa hewan yang paling pandir di seluruh samudera? Dia adalah udang!”

Demi mendengar perkataan tersebut, udang-udang itu segera mengadu kepada Hiu, sang raja samudera. Laporan itu ditindaklanjuti dengan menggelar sebuah persidangan yang menghadirkan para ikan tuna itu dan para udang.

“Sebagai raja samudera, saya putuskan membuat tantangan kepada kalian berdua, untuk membuktikan kebenaran ucapan si tuna!” Hiu mulai memberi keputusan.

“Saya tugaskan kepada kalian berdua untuk berburu mencari sebutir mutiara! Siapa yang mendapatkan benda tersebut paling lambat, berarti dia yang paling pandir!”

Begitu titah sang raja keluar, kedua kelompok tersebut segera berenang dengan cepat berburu mutiara. Para tuna mengambil arah barat dan mereka dengan sigap mencari-cari di antara terumbu karang.

Adapun para udang mengambil arah timur dan melakukan hal yang sama pula mencari-cari di antara rumput-rumput laut. Namun baru mencari lima menit, seekor udang memberi saran,

“Teman-teman, agar kita lebih semangat mencari mutiara, bagaimana kalau kita makan dulu. Kalau badan kita kuat, pasti bisa lebih mudah berenang kesana-kemari!”

“Setuju. Ayo kita makan dulu!”

Mereka pun sepakat dengan alasan tersebut lalu bersama-sama menyiapkan makanan dan menyantapnya dengan lahap. Kini mereka sudah bugar dan segera melangkah mencari mutiara. Baru saja tiga menit, udang yang lain memberi saran lagi.

“Teman-teman, mencari mutiara itu tidak mudah. Kalau nanti kita menghabiskan waktu sampai malam bagaimana? Sebaiknya sekarang kita mencari dulu makan malam kita, jadi setelah mendapat mutiara bisa langsung makan!”

“Ide yang bagus, ayo kita persiapkan makan malam dulu!”

Lagi-lagi kawanan udang itu berputar balik dan sibuk dengan pekerjaan mereka yang tidak ada hubungannya dengan mutiara. Setelah bahan makanan itu dipersiapkan, maka mereka kembali menuju rerumputan laut untuk melanjutkan tugas mereka. Satu menit kemudian udang yang lain lagi menyela.

“Teman-teman, mutiara itu ada berbagai macam ukuran. Ada yang besar, kecil, dan sedang. Kita seharusnya membawa seluruh peralatan kita, karena kita tidak tahu mutiara seperti apa yang kita temukan nanti.”

“Betul sekali. Ayo kita kembali ke rumah lagi untuk mengambil peralatan!”

Tentu saja mereka semua sepakat dengan usul tersebut dan bersama-sama meninggalkan tugas mereka yang memang belum sedikitpun dikerjakan. Setelah semua persiapan lengkap dan mereka sudah berkumpul kembali, seekor udang kembali mengajukan saran.

“Teman-teman, sebelum mencari mutiara sebaiknya kita musyawarah dulu membentuk panitia. Jadi gerakan kita bisa disesuaikan dengan tugas masing-masing dan hasilnya pasti lebih cepat!”

“Tepat sekali! Ayo kita rundingkan untuk membentuk kepanitiaan!”

Demikianlah seterusnya, di sisi lain sang raja samudera sudah jenuh menunggu di ruang persidangan. Apalagi kawanan ikan tuna juga sudah tiba sejak tadi, dengan sebuah mutiara yang mereka temukan.

Sejak saat itu para penghuni lautan mempunyai istilah baru, yaitu “otak udang” yang ditujukan bagi para udang yang cara berpikirnya seperti demikian. Terlalu banyak persiapan hingga menghabiskan waktu dan melupakan tugas utama.

- Advertisement -
Redaksihttps://www.belumtitik.com
belumtitik.com - Mencerdaskan Tanpa Menggurui I kirim siaran pers dan artikel ke redaksi@belumtitik.com

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply