Bersih Lahir dan Batin

ilustrasi: foto (Instagram)

Belumtitik.com — Ada beragam persiapan umat Islam ketika menyambut Ramadan. Mulai dari baju untuk salat tarawih, buka puasa bersama keluarga dan teman, serta persiapan-persiapan teknis lainnya. Tahun ini lupakan semua itu.

Tahun ini Ramadan dimulai dengan hadirnya wabah. Beberapa bulan belakangan ini kita diajarkan cara membersihkan diri (lahir). Tujuannya agar kita terhindar dari ancaman virus yang belum ditemukan obat mujarabnya.

Meski bayang-bayang virus itu dapat membatalkan beberapa agenda Ramadan yang biasa dilakukan, namun dibalik itu ada hikmah yang dapat kita ambil manfaatnya. Keluar dari Ramadan kita akan bersih lahir dan batin.

Dengan demikian, Ramadan tahun memiliki keistimewaan. Akan lahir manusia yang bersih lahir dan batin. Tentu saja bukan perkara mudah, butuh usaha bukan sebatas wacana. Toh selama ini batin kita masih ‘kotor’ meski berulang kali Ramadan dijalani.

Indikasinya mudah kita dapati, para penguasa masih berfoya dengan uang negara. Masih saja ada penguasa yang mengambil hak orang lain meski puasa dilakukannya berulang kali. Dan masih ada pula berita palsu yang dibuat dan disebarkan oleh mereka yang berpuasa berulang kali.

Kegagalan itu masih dapat diperbaiki tahun ini. Hadirnya Ramadan tahun ini dan kita masih diberi umur, adalah indikasi kesempatan memperbaiki lahir dan batin harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Barangkali jutaan kali para dai dan ulama sudah mengatakan hal itu, namun berlalu begitu saja.

Tahun ini peluang riya dalam bentuk buka puasa bersama, tarawih, zakat, dan ritual lainnya dapat terhindari oleh karena larangan berkerumun. Protokol kesehatan yang sebelumnya tidak direncanakan bukan hanya mencegah penyakit fisik akan tetapi dengan sendirinya mencegah ‘penyakit’ batin, Dan dapat memutuskankan mata rantai keduanya.

Riya berjamaah yang selama ini terjadi di bulan Ramadan semoga saja dapat berkurang. Meski belakangan ini fenomena memberi bantuan terdampak korona seadanya dengan bendera lembaga sebesar-besarnya kerap terjadi. Bahkan menghabiskan milyaran hanya karena simbol lembaga.

Memasuki Ramadan kita berharap ‘penyakit’ batin segera berkurang. Melalui proses pembersihan batin sebulan penuh diharapkan hal itu tidak terjadi lagi. Sikap merasa paling dermawan, paling mulia, paling alim, dan penyakit batin lainnya segera sirna dalam diri kita.

Ibadah bukan bicara angka statistik, bukan pula soal pujian manusia. Hati-hati dengan sesuatu yang tampak indah, menawan, namun hakikatnya kebohongan.

Ramadan mendidik kita menghilangkan semua itu, kejujuran pada diri sendiri, kepekaan sosial, tanpa peduli pujian manusia lainnya sehingga lahir cahaya illahi dalam diri kita.

Kita beruntung tahun ini,ada protokol kesehatan dan Ramadan yang wajib kita patuhi jika ingin meraih gelar taqwa. Sejatinya protokol kesehatan sudah termaktub dalam ajaran Islam namun amat sedikit di antara kita yang memahami apalagi melaksanakannya.

Kebanyakan kita cenderung hanya mempertimbangkan aspek surga dan neraka. Kita hanya berbuat dan beribadah atas dasar surga dan neraka sehingga kerap kehilangan hakikat ibadah dan perbuatan.

Dampak dari pola pikir itu, ibadah tidak benar-benar diterapkan dalam keseharian hidup kita, tidak teraplikasi. Setidaknya kita masih mengambil hak orang lain meski puasa harusnya menghidupkan kesalehan sosial dengan sedekah meski sebesar biji zarah.

Prilaku koruptif yang dipertontonkan selama ini sudah sepatutnya diakhiri, prilaku pamer dan riya sudah waktunya dihentikan. Tahun ini peluang itu terbuka lebar, korona telah mendidik manusia modern agar jangan riya ketika beribadah.

Semoga saja dengan protokol kesehatan dan protokol Ramadan, kita semua akan bersih lahir dan batin. Cita-cita meraih taqwa atau setidaknya mendekati taqwa akan terwujud tahun ini. Selamat menjalankan ibadah puasa.

- Advertisement -
Don Zakiyamani
Penikmat Kopi Senja

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply