Benarkah Pancasila Sakti?

Belumtitik – Dalam KBBI online kata ‘sakti’ memiliki tiga arti. Pertama kata ‘sakti’ berarti mampu (kuasa) berbuat sesuatu yang melampaui kodrat alam, kedua, mempunyai kuasa gaib; bertuah dan ketiga, keramat. Itu artinya Pancasila memiliki kekuatan yang melampui hukum alam (kodrat alam), kekuatan gaib, bahkan keramat.

1 Oktober selalu diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila, sementara 1Juni diperingati hari lahirnya Pancasila. Momen pertama ditandai dengan peristiwa yang masih boleh didebatkan (G-30-S/PKI). Sementara momen kedua untuk mengingatkan peristiwa perumusan dasar negara tersebut oleh tokoh-tokoh bangsa dalam sidang BPUPKI.

Dengan demikian sila-sila dalam Pancasila mesti mengandung nilai historis, rasional, aktual,dan yang paling penting ialah implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika tidak, Pancasila tidak dapat dikatakan sakti dan mubazir dijadikan dasar maupun falsafah negara.

Kita ketahui dari ucapan sejarawan maupun buku-buku teks sejarah bahwa setiap sila dalam Pancasila memang didahului dengan dialetika intelektual masa itu. Sudah melalui proses editing akal sehat, penalaran dan melihat realitas serta kebutuhan zaman itu.

Mengapa kemudian sila pertama menyoal Tuhan. Apakah itu kebutuhan saat itu atau hingga sekarang memang dibutuhkan Tuhan dalam kehidupan bernegara. Apakah tanpa mempercayai Tuhan sebuah negara termasuk Indonesia tidak dapat melakukan kerja-kerja sebuah negara.

Imanuel kant seorang pemikir yang kurang percaya Tuhan pernah memberikan nasehat. Tuhan memang harus dihadirkan dalam sebuah negara, dengan adanya Tuhan akan tercipta moral masyarakat yang baik. Manusia harus takut akan sesuatu agar tidak sembarangan berbuat, dalam agama kita kenal istilah dosa dan pahala yang muaranya menuju surga dan neraka.

Mereka yang bermoral baik akan menuju surga dan sebaliknya disediakan neraka bagi mereka yang bermoral jahat. Begitulah mengapa Tuhan penting hadir dalam kehidupan bernegara. Selebihnya? Tuhan hanya dijadikan ‘alat’ kepentingan politisi terutama di musim cari suara. Tuhan dienyahkan Ketika pembahasan-pembahasan uang milyaran.

Apakah itu pertanda manusia tidak takut lagi pada Tuhan dan hukumannya. Apakah bangsa bertuhan satu hanya slogan agar umat beragama tenang dan mau bersatu dalam sebuah negara yang disebut Indonesia. Pertanyaan ini harus terjawab secara rasional dan harus pula aktual serta terimplementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika tidak, buang saja sila pertama.

Sila transenden tersebut barangkali yang menjadikan Pancasila sakti, bukankah hanya Tuhan yang mampu melampui kodrat alam (hukum alam). Hanya Tuhan yang memiliki kekuasaan tanpa batas. Dialah Yang Maha Kuasa, baik yang ada di bumi maupun di luar bumi. Dia tiada bertelur dan beranak, tidak pula ditelurkan dan diperanakan. Dan tak ada satupun yang menyerupaiNya.

Jika manusia Indonesia memahami dan mengamalkan sila pertama ini dengan benar, tentu korupsi dan kolusi tidaklah terjadi. Karena perbuatan itu melanggar hak orang banyak. Tidak sesuai pula dengan sila selanjutnya, kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila kedua ini malah paling sering dilanggar mereka-mereka yang diberi wewenang rakyat untuk mengurus negara.

Mereka-mereka yang seharusnya menjadi teladan rasionalitas dan implementasi Pancasila. Namun kenyataannya, merekalah para pelanggar utama sila kedua ini. Sebut saja pembantaian  di simpang KKA Aceh (199). Bahkan tragedi Tgk Priok (1984) bermula dari keharusan semua organisasi berazaskan Pancasila yang dihembuskan sejak 1980.

Masa sih mempancasilakan rakyat harus dengan pertumpahan darah, bukankah hal itu malah menghina prinsip dan semangat Pancasila. Apakah kesaktian Pancasila digunakan untuk menghabisi rakyatnya sendiri. Bukankah perbuatan-perbuatan di atas merupakan Tindakan yang tidak manusiawi dan tidak beradab.

Bagaimana pula kita berharap lahir persatuan dan kesatuan bangsa jika segala cara dihalalkan demi kelanggengan kekuasaan. Bagaimana kita berharap persatuan tercapai dengan paksaan bahkan tangan kosong dibalas dengan senjata yang menumpahkan darah manusia.

Harusnya kita mengevaluasi diri, mengapa ideologi lain belakangan diminati ketimbang Pancasila. Di mana saktinya Pancasila bila peradaban kita selalu kalah jauh dari kapitalisme. Apakah kesaktian Pancasila sebatas membubarkan PKI dan membunuh para pengikutnya, bahkan tanpa pengadilan.

Apakah jalan mufakat hanya dilakukan untuk melakukan korupsi terorganisir dan terencana saja. Bukankah harusnya rakyat dipimpin oleh hikmat bukan oleh ugal-ugalan, bukan pula dengan sikap otoriter. Amanat sila keempat mengharuskan rakyat dipimpin oleh hikmat. Implementasinya harus mengedepankan jalan-jalan bijak dalam menyikapi perbedaan.

Jalan bijak sudah terlalu lama ditinggalakn, tidak terawat sehingga jalan bijak dipenuhi semak-belukar, penuh duri. Kekuasaan beralih dari rakyat kepada konglomerat. Negara diatur pemilik modal padahal bumi dan air serta yang terkandung di dalamnya milik negara, milik rakyat. Dongeng kepemilikan sumber daya alam oleh negara sudah sejak lama kita dengar.

Kita pun lelap dalam buaian retoris-retoris kaum oportunis yang dijadikan agen oleh oligarki. Mereka sukses memainkan drama-drama nasionalisme dan patriotisme meski sebenarnya mereka ‘bandit’. Lalu rakyat berharap akan ada keadilan sosial. Lagi-lagi mimpi diciptakan melalui seminar dan workshop akan pilar-pilar bangsa.

Pancasila hanya dijadikan alasan untuk menangkap lawan politik. Pancasila diagungkan dalam seminar-seminar, kampanye politik, pidato kenegaraan, namun disingkirkan Ketika membahas proyek-proyek yang menggunakan uang rakyat. Bahkan pengembalian uang rakyat, pajak rakyat, dibungkus dalam bentuk bantuan negara kepada rakyatnya.

Seolah-olah negara berbaik hati dan mulia, padahal uang dan sembako itu memang milik rakyat. Memangnya negara mampu memberi bantuan dalam bentuk uang dan bahan pangan seandainya rakyat tak bayar pajak. Keadilan sosial bukan begitu bro, jangan bodohi rakyat yang sedang dihimpit beragam persoalan disebabkan ketidakbecusan mengurus negara.

Berterima kasihlah pada rakyat yang begitu sabar dengan prilaku kalian yang seenaknya menggunakan uang mereka. Andai rakyat tak sabar, pastilah mereka sudah mengencingi rumah-rumah mewah kalian. Lalu di mana Pancasila. Apakah Pancasila tak sakti lagi. Sayangnya, satu demi satu ‘jurus’ andalan Pancasila telah sejak lama diamputasi.

Akhirnya, kesaktian Pancasila hanya di dalam buku-buku teks. Segala keputusan kini hanya berlandaskan kebutuhan sesaat, memuluskan kekuasaan.

- Advertisement -
Don Zakiyamani
Penikmat Kopi Senja

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply