Bahasa Inggris Sebagai Alat Komunikasi Lintas Budaya Akademik dan Politik di Era Global

dok. multilingua.in

Belumtitik.com – Risalah ini diawali pengalaman saya sebagai anak desa Aceh yang berkesempatan belajar ke tingkat perguruan tinggi baik di Aceh /Indonesia, maupun di sejumlah negara yang berbahasa Inggris. Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Syiah Kuala dari Agustus 1980 sampai dengan medio 1985, saya amati dan alami, kolega mahasiswa dan saya selalu menyurati orang tua.

Surat ini biasanya berisi aktivitas dan capaian mereka selama sebulan terakhir. Lazimnya, dari paragraf awal sampai menjelang akhir menceritakan hal ikhwal yang menyenangkan. Namun, pada paragraf atau kalimat terakhir, substansinya mengerucut pada permohonan untuk kebutuhan biaya bulan berikutnya.

Isi surat tidak langsung menyampaikan permohonan kiriman biaya. Mungkin kebiasaan menyurati yang dulu begitu populer antara mahasiswa dan orangtuanya kian beralih dengan penggunaan hand phone (HP), atau media elektronik lainnya, meski informasi yang disampaikan masih dengan substansi sama.

Kebiasaan ketika masih mahasiswa tersebut terekam dalam memori sampai mendalaminya lagi ketika mengajar Writing (menulis) pada almamater saya, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.

Saya menemukan bahwa mahasiswa umumnya tidak langsung menukik ke sasaran ide dalam menulis, tapi terlebih dahulu menceritakan sesuatu atau berbagai hal lain sebelum menyentuh inti komunikasi.

Pendekatan dalam penulisan semacam ini agaknya merefleksikan nilai kultural masyarakat yang telah melahir-besarkan mahasiswa tersebut. Dalam budaya kita memang sudah menjadi ukuran normatif kalau core message (pesan utama) tidak langsung disampaikan dengan serta-merta baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan.

Jika seorang interlocutor atau interactant (lawan bicara) langsung menyentuh inti pesannya, dapat dianggap telah keluar dari bingkai kulturnya. Kaplan (1966; 1987) mengkaji gaya atau pendekatan retorika dan penulisan para mahasiswa asing (khususnya Asia) yang belajar di Southern California University, Amerika Serikat, dan menemukan bahwa terdapat cultural thought patterns (pola pikir yang bersifat kultural) pada kalangan mahasiswa Asia, yaitu kecendrungan to beat around the bush (memutar-mutar pada berbagai hal lain sebelum menyentuh maksud utama).

Di samping pendekatan indirect (tidak langsung) atau hidden (tersembunyi) tersebut, tidak sedikit pula para mahasiswa, karyasiswa, akademisi, diplomat, politisi, negosiator, dan para komunikator kita umumnya secara tanpa sadar mempekerjakan, bahkan memaksakan, budayanya ketika berhadapan dengan mereka yang berbudaya beda.

Sebagai contoh, pada tahun 1989, kami mendapat kesempatan untuk pertama kali menginjak kaki di negeri Kanguru, Australia, sebagai karyasiswa di University of Sydney. Suatu ketika seorang profesor mengundang sekitar 30-an mahasiswa Indonesia, dan Thailand untuk dinner (makan malam) bersama di rumahnya.

Malam itu cuaca agak dingin dan gerimis. Namun, ketika acara makan
yang agak santai itu dimulai, tiba-tiba salah seorang teman Indonesia menunjuk tangan sambil berucap dalam bahasa Inggris yang beridiolek kaku (karena memang bahasa Inggrisnya belum cukup fasih) “Excuse me sir, I want to go to the back.”

Sang tuan rumah dengan raut muka keheranan langsung mengantarnya ke halaman belakang. Tak tahu apa yang terjadi di sana, tapi setelah beberapa menit kemudian ketika tuan rumah kembali untuk makan bersama para undangan lainnya, kami mengetahui dan langsung membisikkan kepadanya kalau yang dimaksudkan kolega tersebut bukan halaman belakang yang sebenarnya, tapi toilet.

Rupanya, kalimat bahasa Inggris tersebut diterjemahkan dari “Maaf, saya mau ke belakang” yang dalam konteks budaya Indonesia merupakan ekspresi sopan atau santun dari “Maaf, saya mau buang air kecil”. Tentu saja tuan rumah hampir tak dapat mengontrol keterkejutannya sambil tertawa geli.

Contoh lain kami amati ketika seorang politisi (diplomat) Indonesia bernegosiasi untuk kepentingan negara di New York, Amerika Serikat. Sang politisi ini mengawali pembicaraan dengan petinggi negara Paman Sam itu dengan suara pelan, menunduk, dan tidak menatap lawan bicaranya.

Kemudian, tokoh ini tidak langsung menyampaikan maksud pertemuan itu, kecuali secara samar menyampaikan keinginan Indonesia untuk meningkatkan hubungan dalam sejumlah bidang yang juga tidak disampaikan secara ekplisit.

Ekspresi yang digunakan, yang dimaksudkan agar tersampaikan, ternyata tidak ditangkap lawan bicaranya. Gaya itu dimaksudkan agar sopan, dan beretika sebagaimana lazim dipahami di Indonesia. Namun, pertemuan yang menghabiskan waktu cukup lama itu tidak membawa hasil yang diharapkan.

Eksemplifikasi lintas budaya serupa diamati juga dalam berbagai komunikasi politik yang dilakukan para politisi, diplomat, atau utusan Indonesia dalam memperjuangkan berbagai kepentingan negara lainnya.

Di samping kelemahan dalam penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris yang harus mencapai kadar tertentu, terbukti bahwa ketidakpahaman nilai budaya yang biasanya melekat pada bahasa dapat menggagalkan tujuan komunikasi.

Ketidakpahaman budaya yang berbeda, yang lazimnya cukup runyam, terjadi karena ada semacam unawareness (ketidaksadaran) untuk memperkerjakan kultur penutur sendiri dalam berkomunikasi dengan mereka yang berlatar budaya beda.

Sensitivitas terhadap nilai atau aspek kultural orang atau bangsa lain
agaknya begitu sentral dalam percaturan politik dan negosiasi pada tataran internasional dan global.

Karena kepekaan ini menjadi penentu kesuksesan komunikasi, sebagaimana diamati pada sejumlah konteks komunikasi, maka pengetahuan tentang komunikasi lintas budaya dirasakan begitu penting untuk meningkatkan kepekaan tersebut.

Fenomena yang terjadi dalam dunia akademik dan politik inilah, terutama yang berkaitan dengan peran bahasa Inggris, yang hendak dikaji dalam tulisan ini.

- Advertisement -
Dr. Darni M. Daud
mantan Rektor dan Professor Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh

Terbaru

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Terkait

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...
iklan

Leave a Reply